TUGAS ETIKA PROFESI
1. Jelaskan alasan perlunya pendidikan etika profesi dalam bidang keteknikan! Apa yang akan terjadi bilamana profesi keteknikan tanpa dilandasi dengan etika?
Jawab:
Etika profesional dikeluarkan perilaku anggotanya dalam menjalankan praktek profesinya bagi masyarakat.tanpa adanya etika profesi kepercayaan masyarakat akan berkurang dan apabila tidak ada etika maka akan terjadi kesalah gunaan dalam keteknikan itu sendiri.
2. Dalam rangka menjunjung tinggi integritas, kehormatan dan martabat profesi keteknikan sesuai dengan kode etik profesi keteknikan menurut ABET terdapat 4 (empat) prinsip dasar (fundamental principles) yang harus dilakukan oleh insinyur. Jelaskan empat hal tersebut!
Jawab
a. Menggunakan ketrampilan dan pengetahuan mereka untuk peningkatan kesejahteraan manusia;
b. Menjadi tak berat sebelah dan jujur, dan melayani dengan ketepatan publik, pemberi kerja dan klien mereka
c. Bekerja keras untuk meningkatkan kemampuan wewenang
d. Mendukunglah profesional dan masyarakat yang teknis dari disiplin
3. Jelaskan 6 (enam) pilar utama yang menjadi penyangga kode etik keteknikan!
Jawab:
Pada dasarnya kode etik profesi dirancang dengan mengakomodasikan beberapa prinsip etika seperti berikut:
a. etika kemanfaatan umum (utilitarianism ethics), yaitu setiap tindakan yang menghasilkan kemanfaatan terbesar bagi kepentingan umum haruslah dipilih dan dijadikan motivasi utama;
b. etika kewajiban (duty ethics), yaitu setiap sistem harus mengakomodasikan hal-hal yang wajib untuk diindahkan tanpa harus mempertimbangkan konsekuensi yang mungkin bisa timbul, berupa nilai moral umum yang harus ditaati seperti jangan berbohong, jangan mencuri, harus jujur, dan sebagainya. Semua nilai moral ini jelas akan selalu benar dan wajib untuk dilaksanakan, sekalipun akhirnya tidak akan menghasilkan keuntungan bagi diri sendiri;
c. etika kebenaran (right ethics), yaitu suatu pandangan yang tetap menganggap salah terhadap segala macam tindakan yang melanggar nilai-nilai dasar moralitas. Sebagai contoh tindakan plagiat ataupun pembajakan hak cipta/karya orang lain, apapun alasannya akan tetap dianggap salah karena melanggar nilai dan etika akademis;
d. etika keunggulan/kebaikan (virtue ethics), yaitu suatu cara pandang untuk membedakan tindakan yang baik dan salah dengan melihat dari karakteristik (perilaku) dasar orang yang melakukannya. Suatu tindakan yang baik/benar umumnya akan keluar dari orang yang memiliki karakter yang baik pula. Penekanan disini diletakkan pada moral perilaku individu, bukannya pada kebenaran tindakan yang dilakukannya; dan
e. etika sadar lingkungan (environmental ethics), yaitu suatu etika yang berkembang di pertengahan abad 20 ini yang mengajak masyarakat untuk berpikir dan bertindak dengan konsep masyarakat modern yang sensitif dengan kondisi lingkungannya. Pengertian etika lingkungan disini tidak lagi dibatasi ruang lingkup penerapannya merujuk pada nilai-nilai moral untuk kemanusiaan saja, tetapi diperluas dengan melibatkan “natural resources” lain yang juga perlu dilindungi, dijaga dan dirawat seperti flora, fauna maupun obyek tidak bernyawa (in-animate) sekalipun.
4. Intelectual capital merupakan modal utama untuk menciptakan kesejahteraan manusia di masa kini dan yang akan datang. Salah satu jenis dari intelectual capital adalah kekayaan intelectual (intelectual property). Jelaskan berbagai jenis kekayaan intelektual yang terkait dengan bidang keteknikan ! Bagaimana kita menyikapinya secara profesional ?
Jawab:
a. Hak Cipta (Copyright)
Hak cipta adalah hak dari pembuat sebuah ciptaan terhadap ciptaannya dan salinannya. Pembuat sebuah ciptaan memiliki hak penuh terhadap ciptaannya tersebut serta salinan dari ciptaannya tersebut. Hak-hak tersebut misalnya adalah hak-hak untuk membuat salinan dari ciptaannya tersebut, hak untuk membuat produk derivatif, dan hak-hak untuk menyerahkan hak-hak tersebut ke pihak lain. Hak cipta berlaku seketika setelah ciptaan tersebut dibuat. Hak cipta tidak perlu didaftarkan terlebih dahulu.
b. Paten (Patent)
Berbeda dengan hak cipta yang melindungi sebuah karya, paten selain melindungi produk juga bisa melindungi ide dan proses. Pada hak cipta, seseorang lain berhak membuat karya lain yang fungsinya sama asalkan tidak dibuat berdasarkan karya orang lain yang memiliki hak cipta. Sedangkan pada paten, seseorang tidak berhak untuk membuat sebuah karya yang cara bekerjanya sama dengan sebuah ide, proses atau produk yang dipatenkan.
c. Merk Dagang (Trademark)
Merk dagang digunakan oleh pebisnis untuk mengidentifikasikan sebuah produk atau layanan. Merk dagang meliputi nama produk atau layanan, beserta logo, simbol, gambar yang menyertai produk atau layanan tersebut.
5. Salah satu syarat untuk menjadi profesional adalah dimilikinya kompetensi dalam bidangnya. Sehubungan dengan hal tersebut jelaskan kompetensi utama yang harus dimiliki oleh Sarjana
Secara umum lulusan program sarjana, sesuai dengan Kurikulum Inti se-Indonesia harus memiliki kompetensi utama sebagai berikut:
a. Mampu mengidentifikasikan, memformulasikan, dan memecahkan masalah-masalah perancangan maupun perbaikan sistem integral yang terdiri dari manusia, material, informasi, peralatan dan energi secara kreatif dengan menggunakan alat-alat pokok analitikal, komputasional dan/atau eksperimental
b. Mampu beradaptasi
c. Mampu berkomunikasi dan bekerja-sama secara efektif
d. Memahami dan menyadari tanggung jawab profesi dan etika
Sedangkan secara khusus lulusan sarjana Teknik Industri harus memiliki kemampuan sebagai berikut:
a. Mampu merencanakan, mendesain, mengorganisasi, serta mengoperasikan sistem industri secara efektif dan efisien
b. Mengintegrasikan komponen dan atau proses suatu system manufaktur yang meliputi: manusia, mesin, bahan, peralatan, energi, informasi dan modal
c. Mampu menggunakan alat-alat pokok analitikal, komputesional, dan atau eksperimental untuk memecahkan persoalan teknik industri
d. Memiliki logika yang baik serta kreativitas yang tinggi dalam menyelesaikan masalah
e. Memiliki kemampuan berkomunikasi yang efektif dan Mampu beradaptasi terhadap berbagai lingkungan, serta mampu berinteraksi dengan baik dalam kelompok yang bervariasi (team work)
sumber: http://priyadi.net/archives/2005/03/06/jenis-jenis-hak-kekayaan-intelektual/
Selasa, 11 Mei 2010
Senin, 05 April 2010
Etika Keteknikan
1. Distinguishing factual, conceptual, application and moral questions and issues
Although the terms "question" and "issue" are often used interchangeably, we might distinguish them as follows.
An issue arises when there is controversy over what the answer to a question is, and it matters, practically speaking, how the question gets answered.
Thus "How many trees were there in Brazos County on January 1, 1444?" is a question, but it is hardly an issue, whereas "Is elective abortion murder?" is both a question and an issue.
In the lecture on chapter two, we already began to distinguish among the four kinds of questions and issues mentioned in the title of this section. To help nail down the distinctions more clearly, so that you can put them to better use in analyzing cases, we should say a bit more about what makes something a factual question vs. a moral question.
Factual questions
The textbook authors do not give an explicit definition of "factual question," but we can fairly characterize what they mean in terms of a standard definition of what counts as an empirical question:
A question is empirical if and only if it could, at least in principle or under ideal conditions, be resolved through observation or experiment.
So we might say that factual questions concern "data." But note the following related points:
1. "Observation or experiment" covers a very broad range of things, all the way from simply going and looking around the house or listening to what a person says, through taking photographs outside of the visual wavelengths and measuring the chemical content of water with instruments, to tracing the trajectories of subatomic particles in a cloud chamber.
• For this reason, not all empirical questions are properly characterized as "scientific" questions. The latter term is best reserved for the subset of empirical questions which formal scientific training and practice would be required to answer.
2. And thus, not all factual questions are about things that are directly observable; sometimes the data we rely on in resolving them are indirect indicators of the things in question.
• For instance, just as physicists make inferences about the presence and causal properties of subatomic particles from their trajectories in cloud chambers, we make inferences about the presence and causal properties of mental states using "folk psychology," the common sense way of explaining the behavior of people [and some animals] in terms of their beliefs and desires.
• In saying this about mental states, we need not commit ourselves to any very specific answers to complex questions in the philosophy of mind. All we are committing outselves to is the claim that there is a fact of the matter about what beliefs, desires, etc., people have, and that what they do and say is at least normally a reliable indicator of these.
• If you want some background on the philosophy of mind, you could begin by visiting these links:
four on-line lectures on the philosophy of mind by Colin Allen, or
the Stanford Encyclopedia of Philosophy entry on The Identity Theory of Mind.
3. A special instance of the foregoing are causal claims, for these are not just about what in fact occurred and was thus observable. Causal claims are also about what did not in fact occur, but would have, under certain (counterfactual) conditions.
• Thus statements about causal relationships have a special, and philosophically interesting, status. For to say that, generally, "Xs cause Ys" is to say not only that whenever an X occurs, a Y follows, but also that if an X had occurred (when it in fact did not), then a Y would have occurred too. And to make the singular claim that "X was the cause of Y in this case" is to say that if (contrary to fact) X had not occurred, then Y would not have occurred.
• If you want some background on the meaning and logical status of counterfactuals, you could begin by visiting this link:
The Stanford Encyclopedia of Philosophy entry on counterfactual theories of causation.
(Note: If you followed more than one of the above links for optional background information, then you should seriously consider changing your major to philosophy. For information on that, click here.)
(sumber: Unless indicated otherwise, quotations and page references are to the textbook: Harris, Pritchard and Rabins, Engineering Ethics, second edition (Wadsworth 2000). )
Although the terms "question" and "issue" are often used interchangeably, we might distinguish them as follows.
An issue arises when there is controversy over what the answer to a question is, and it matters, practically speaking, how the question gets answered.
Thus "How many trees were there in Brazos County on January 1, 1444?" is a question, but it is hardly an issue, whereas "Is elective abortion murder?" is both a question and an issue.
In the lecture on chapter two, we already began to distinguish among the four kinds of questions and issues mentioned in the title of this section. To help nail down the distinctions more clearly, so that you can put them to better use in analyzing cases, we should say a bit more about what makes something a factual question vs. a moral question.
Factual questions
The textbook authors do not give an explicit definition of "factual question," but we can fairly characterize what they mean in terms of a standard definition of what counts as an empirical question:
A question is empirical if and only if it could, at least in principle or under ideal conditions, be resolved through observation or experiment.
So we might say that factual questions concern "data." But note the following related points:
1. "Observation or experiment" covers a very broad range of things, all the way from simply going and looking around the house or listening to what a person says, through taking photographs outside of the visual wavelengths and measuring the chemical content of water with instruments, to tracing the trajectories of subatomic particles in a cloud chamber.
• For this reason, not all empirical questions are properly characterized as "scientific" questions. The latter term is best reserved for the subset of empirical questions which formal scientific training and practice would be required to answer.
2. And thus, not all factual questions are about things that are directly observable; sometimes the data we rely on in resolving them are indirect indicators of the things in question.
• For instance, just as physicists make inferences about the presence and causal properties of subatomic particles from their trajectories in cloud chambers, we make inferences about the presence and causal properties of mental states using "folk psychology," the common sense way of explaining the behavior of people [and some animals] in terms of their beliefs and desires.
• In saying this about mental states, we need not commit ourselves to any very specific answers to complex questions in the philosophy of mind. All we are committing outselves to is the claim that there is a fact of the matter about what beliefs, desires, etc., people have, and that what they do and say is at least normally a reliable indicator of these.
• If you want some background on the philosophy of mind, you could begin by visiting these links:
four on-line lectures on the philosophy of mind by Colin Allen, or
the Stanford Encyclopedia of Philosophy entry on The Identity Theory of Mind.
3. A special instance of the foregoing are causal claims, for these are not just about what in fact occurred and was thus observable. Causal claims are also about what did not in fact occur, but would have, under certain (counterfactual) conditions.
• Thus statements about causal relationships have a special, and philosophically interesting, status. For to say that, generally, "Xs cause Ys" is to say not only that whenever an X occurs, a Y follows, but also that if an X had occurred (when it in fact did not), then a Y would have occurred too. And to make the singular claim that "X was the cause of Y in this case" is to say that if (contrary to fact) X had not occurred, then Y would not have occurred.
• If you want some background on the meaning and logical status of counterfactuals, you could begin by visiting this link:
The Stanford Encyclopedia of Philosophy entry on counterfactual theories of causation.
(Note: If you followed more than one of the above links for optional background information, then you should seriously consider changing your major to philosophy. For information on that, click here.)
(sumber: Unless indicated otherwise, quotations and page references are to the textbook: Harris, Pritchard and Rabins, Engineering Ethics, second edition (Wadsworth 2000). )
Orang Teknik Juga Punya Etika Tau????
TUGAS 2 (22 Februari 2010)
1. Jelaskan yang dimaksud dengan dilemma moral, beri contoh dalam kejadian
dalam kehidupan sehari-hari!
Jawab:
Dilema moral adalah keputusan yang dimbil terhadap ke tiga alternative kreativitas yang paling menguntungkan.
2. Jelaskan paham kantianisme dan berikan contohnya!
Jawab:
Kantianisme adalah paham yang menekankan pada kewajiban. Pada paham ini seseorang dituntut untuk merspon dan patuh pada kewajibannya. (Tuntutan profesi). Contohnya seorang mahasiswa mengumpulkan tugas tepat waktu.
3. Paham utilitariansme banyak dianut oleh para profesional di bidang
keteknikan. Jelaskan alasannya!
Jawab:
Paham Utilitarianisme banyak dianut oleh para professional di bidang keteknikkan karena paham ini memberikan kenaikkan pada segi ekonomi yang nyata dalam hal analisis biaya dan risiko (dalam hal memperoleh keuntungan).
1. Jelaskan yang dimaksud dengan dilemma moral, beri contoh dalam kejadian
dalam kehidupan sehari-hari!
Jawab:
Dilema moral adalah keputusan yang dimbil terhadap ke tiga alternative kreativitas yang paling menguntungkan.
2. Jelaskan paham kantianisme dan berikan contohnya!
Jawab:
Kantianisme adalah paham yang menekankan pada kewajiban. Pada paham ini seseorang dituntut untuk merspon dan patuh pada kewajibannya. (Tuntutan profesi). Contohnya seorang mahasiswa mengumpulkan tugas tepat waktu.
3. Paham utilitariansme banyak dianut oleh para profesional di bidang
keteknikan. Jelaskan alasannya!
Jawab:
Paham Utilitarianisme banyak dianut oleh para professional di bidang keteknikkan karena paham ini memberikan kenaikkan pada segi ekonomi yang nyata dalam hal analisis biaya dan risiko (dalam hal memperoleh keuntungan).
Etika Profesi
TUGAS 1 (10 Februari 2010)
1. Jelaskan pengertian, cakupan dan tujuan dari etika profesi keteknikan!
Jawab:
Etika profesi keteknikan adalah etika yang diterapkan dalm bidang keahlian teknik. Etika ini memaparkan mengenai tata cara bekerja bagi seorang sarjana teknik dalam bekerja. Pada etika profesi ini seorang sarjana teknik dituntut bertanggungjawab atas semua kewajiban yang ada dalam profesi yang ia tekuni. Tujuan dari etika profesi keteknikan ini adalah mengembangkan rangkaian kerja guna membangun kewaspadaan terhadap pandangan dari ethical issue.
2. Jelaskan perbedaan profesi dan pekerjaan! Berikan contoh masing-masing!
Jawab:
Profesi Pekerjaan
• Memerlukan bidang ilmu dan keterampilan tertentu di luara jangkauan khalayak ramai.
• Menggunakan hasil penelitian dan aplikasi dari teori ke praktik (teori baru dikembangkan dari hasil penelitian).
• Memerlukan keahlian khusus dengan waktu yang panjang.
• Mempunyai kode etik
• Contoh: guru, dosen • Sesuatu yang dibuat
• Mata pencaharian
• Tidak mempunyai kode etik
• Contoh: petani
3. Apa yang dimaksud dengan kode etik?
Jawab:
Kode etik adalah norma-norma yang harus diperhatikan oleh setaip anggota profesi dalam melaksanakan tugas profesinya dan dalam hidupnya di masyarakat. Norma-norma tersebut berisi pentunjuk-petunjuk bagi para anggota profesi tentang bagaimana mereka melaksanakan larangan-larangan, yaitu ketentuan-ketentuan tentang apa yang boleh diperbuat atau dilaksanakan oleh mereka, tidak saja dalam menjalankan tugas profesi mereka, melainkan juga menyangkut tingkah laku anggota profesi pada umumnya dalam pergaulan sehari-hari dalam masyarakat (Soecipto, 1994).
1. Jelaskan pengertian, cakupan dan tujuan dari etika profesi keteknikan!
Jawab:
Etika profesi keteknikan adalah etika yang diterapkan dalm bidang keahlian teknik. Etika ini memaparkan mengenai tata cara bekerja bagi seorang sarjana teknik dalam bekerja. Pada etika profesi ini seorang sarjana teknik dituntut bertanggungjawab atas semua kewajiban yang ada dalam profesi yang ia tekuni. Tujuan dari etika profesi keteknikan ini adalah mengembangkan rangkaian kerja guna membangun kewaspadaan terhadap pandangan dari ethical issue.
2. Jelaskan perbedaan profesi dan pekerjaan! Berikan contoh masing-masing!
Jawab:
Profesi Pekerjaan
• Memerlukan bidang ilmu dan keterampilan tertentu di luara jangkauan khalayak ramai.
• Menggunakan hasil penelitian dan aplikasi dari teori ke praktik (teori baru dikembangkan dari hasil penelitian).
• Memerlukan keahlian khusus dengan waktu yang panjang.
• Mempunyai kode etik
• Contoh: guru, dosen • Sesuatu yang dibuat
• Mata pencaharian
• Tidak mempunyai kode etik
• Contoh: petani
3. Apa yang dimaksud dengan kode etik?
Jawab:
Kode etik adalah norma-norma yang harus diperhatikan oleh setaip anggota profesi dalam melaksanakan tugas profesinya dan dalam hidupnya di masyarakat. Norma-norma tersebut berisi pentunjuk-petunjuk bagi para anggota profesi tentang bagaimana mereka melaksanakan larangan-larangan, yaitu ketentuan-ketentuan tentang apa yang boleh diperbuat atau dilaksanakan oleh mereka, tidak saja dalam menjalankan tugas profesi mereka, melainkan juga menyangkut tingkah laku anggota profesi pada umumnya dalam pergaulan sehari-hari dalam masyarakat (Soecipto, 1994).
Kamis, 17 Desember 2009
Hasil Analisis Rangka Manusia dan Ototnya
Analisis Rangka dan Otot yang Berpotensi Mengalami Keluhan
Berdasarkan pengisian kuesioner yang telah isi dapat disimpulkan bahwa penyakit yang berpotensi pada pedagang buah adalah sakit pada bagian lengan bawah. Otot-otot yang mengalami cedera adalah otot kedang dan otot ketul. Otot kedang mengalami kontraksi yang sangat lama yaitu pada waktu membawa buah dalam keranjang, sehingga siku, dan sendi-sendi pada ruas-ruas tangan akan mengalami sakit. Sakit juga dikeluhkan pada bagian bahu yaitu pada otot kerudung. Cedera pada otot ini menyebabkan sakit pada bahu saat digerakkan. Keluhan pada lutu kaki juga menjadi perhatian yang serius karena setiap pedagang pada waktu mengambil beban kerja tidak dalam posisi jongkok melainkan berdiri dengan kaki yang lurus dan badan membungkuk.
Analisis Potensi Penyakit yang Mungkin Terjadi
Penyakit yang dapat ditimbulkan dari aktivitas ini adalah kram pada bagian tangan dan otot punggung. Kram ini dapat menyebabkan punggung terasa berat sehingga terasa berat sehingga akan sakit jika ditegakkan. Hal ini terjadi karena pada waktu mengambil beban posisi kaki tidak dalam keadaan tertekuk tetapi lurus dengan posisi badan yang membungkuk. Kram pada bagian tangan terjadi karena membawa beban yang berat dalam waktu yang lama. Kram tanagn terjadi pada bagian lengan baik atas maupun bawah. Bagian dari tangan yang paling sakit adalah jari sehingga terkadang jari tangan menjadi mati rasa.
Penyakit lain yang mungkin ditimbulkan adalah stiff yaitu akibat adanya peradangan pada otot trapezius leher akibat kesalahan pada gerakan. Penyakit ini dapat menyebabkan pembengkakan pada bagian otot trapezius.
Keselo atau terkilir pada bagian tangan pada saat mengambil beban kerja. Penyakit ini disebabkan oleh tertariknya ligamen ke posisi yang tidak sesuai, namun sendinya tidak bergeser. Hal ini terjadi karena gerakan yang tiba-tiba atau gerakan yang jarang dilakukan oleh pedagang tersebut.
Lordosis pada bagian tulang punggung karena posisi kerja pada waktu membawa beban kerja yang tidak baik. Pada posisi kerja bagian punggung pedagang buah cenderung melengkung ke depan.
Analisis Output SPSS
Berdasarkan pengolahan data dengan software SPSS maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara lamanya bekerja dengan jenis keluhan yang dirasakan oleh keempat pedagang buah tersebut. Hal ini disebabkan oleh sample pengamatan tidak cukup untuk mewakili populasi yang ada. Pada waktu pengamatan seharusnya sample yang digunakan untuk pengamatan adalah minimal sebanyak 30 orang. Jika sample sebanyak 30 orang juga masih belum memenuhi syarat maka harus dilakukan uji kecukupan data.
Usulan Perbaikan Posisi Kerja
Usulan perbaikan posisi kerja dari jenis pekerjaan ini adalah posisi mengambil beban kerja seharusnya dalam posisi jongkok. Hal ini untuk mengurangi potensi terjadinya kram pada pinggang. Pada waktu membawa beban kerja seharusnya posisi punggung tetap tegak tidak bengkok ke belakang karena dapat menyebabkan bentuk tulang belakang yang tidak sempurna. Posisi yang kerja yang benar adalah seperti tampak pada gambar 4.6 berikut:
Berdasarkan pengisian kuesioner yang telah isi dapat disimpulkan bahwa penyakit yang berpotensi pada pedagang buah adalah sakit pada bagian lengan bawah. Otot-otot yang mengalami cedera adalah otot kedang dan otot ketul. Otot kedang mengalami kontraksi yang sangat lama yaitu pada waktu membawa buah dalam keranjang, sehingga siku, dan sendi-sendi pada ruas-ruas tangan akan mengalami sakit. Sakit juga dikeluhkan pada bagian bahu yaitu pada otot kerudung. Cedera pada otot ini menyebabkan sakit pada bahu saat digerakkan. Keluhan pada lutu kaki juga menjadi perhatian yang serius karena setiap pedagang pada waktu mengambil beban kerja tidak dalam posisi jongkok melainkan berdiri dengan kaki yang lurus dan badan membungkuk.
Analisis Potensi Penyakit yang Mungkin Terjadi
Penyakit yang dapat ditimbulkan dari aktivitas ini adalah kram pada bagian tangan dan otot punggung. Kram ini dapat menyebabkan punggung terasa berat sehingga terasa berat sehingga akan sakit jika ditegakkan. Hal ini terjadi karena pada waktu mengambil beban posisi kaki tidak dalam keadaan tertekuk tetapi lurus dengan posisi badan yang membungkuk. Kram pada bagian tangan terjadi karena membawa beban yang berat dalam waktu yang lama. Kram tanagn terjadi pada bagian lengan baik atas maupun bawah. Bagian dari tangan yang paling sakit adalah jari sehingga terkadang jari tangan menjadi mati rasa.
Penyakit lain yang mungkin ditimbulkan adalah stiff yaitu akibat adanya peradangan pada otot trapezius leher akibat kesalahan pada gerakan. Penyakit ini dapat menyebabkan pembengkakan pada bagian otot trapezius.
Keselo atau terkilir pada bagian tangan pada saat mengambil beban kerja. Penyakit ini disebabkan oleh tertariknya ligamen ke posisi yang tidak sesuai, namun sendinya tidak bergeser. Hal ini terjadi karena gerakan yang tiba-tiba atau gerakan yang jarang dilakukan oleh pedagang tersebut.
Lordosis pada bagian tulang punggung karena posisi kerja pada waktu membawa beban kerja yang tidak baik. Pada posisi kerja bagian punggung pedagang buah cenderung melengkung ke depan.
Analisis Output SPSS
Berdasarkan pengolahan data dengan software SPSS maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara lamanya bekerja dengan jenis keluhan yang dirasakan oleh keempat pedagang buah tersebut. Hal ini disebabkan oleh sample pengamatan tidak cukup untuk mewakili populasi yang ada. Pada waktu pengamatan seharusnya sample yang digunakan untuk pengamatan adalah minimal sebanyak 30 orang. Jika sample sebanyak 30 orang juga masih belum memenuhi syarat maka harus dilakukan uji kecukupan data.
Usulan Perbaikan Posisi Kerja
Usulan perbaikan posisi kerja dari jenis pekerjaan ini adalah posisi mengambil beban kerja seharusnya dalam posisi jongkok. Hal ini untuk mengurangi potensi terjadinya kram pada pinggang. Pada waktu membawa beban kerja seharusnya posisi punggung tetap tegak tidak bengkok ke belakang karena dapat menyebabkan bentuk tulang belakang yang tidak sempurna. Posisi yang kerja yang benar adalah seperti tampak pada gambar 4.6 berikut:
Permainan???? dengan Teorinya???
STRATEGI MURNI
Penyelesaian dilakukan dengan menggunakan konsep maksimin untuk pemain baris dan minimaks untuk pemain kolom. Dalam strategi ini pemain akan menggunakan satu strategi tunggal untuk mendapat hasil optimal saddle point yang sama
STRATEGI CAMPURAN
Strategi ini dilakukan bila strategi murni belum memberi penyelesaian optimal. Sehingga perlu dilakukan tindak lanjut untuk mendapat titik optimal, dengan usaha mendapatkan saddle point yang sama.
(sumber: emmy.staff.gunadarma.ac.id/.../TEORI+PERMAINAN+Emmy.ppt)
Penyelesaian dilakukan dengan menggunakan konsep maksimin untuk pemain baris dan minimaks untuk pemain kolom. Dalam strategi ini pemain akan menggunakan satu strategi tunggal untuk mendapat hasil optimal saddle point yang sama
STRATEGI CAMPURAN
Strategi ini dilakukan bila strategi murni belum memberi penyelesaian optimal. Sehingga perlu dilakukan tindak lanjut untuk mendapat titik optimal, dengan usaha mendapatkan saddle point yang sama.
(sumber: emmy.staff.gunadarma.ac.id/.../TEORI+PERMAINAN+Emmy.ppt)
Teori Pohon Keputusan
a. Konsep Decision Tree
Mengubah data menjadi pohon keputusan (decision tree) dan aturan-aturan keputusan (rule)
b. Contoh pemakaian Decision Tree
1. Diagnosa penyakit tertentu, seperti hipertensi, kanker, stroke dan lain-lain.
2. Pemilihan produk seperti rumah, kendaraan, komputer dan lain-lain
3. Pemilihan pegawai teladan sesuai dengan kriteria tertentu
4. Deteksi gangguan pada komputer atau jaringan komputer seperti Deteksi Entrusi,
deteksi virus (Trojan dan varians)
c. Tipe Simpul Pada Tree
Tree mempunyai 3 tipe simpul yaitu:
1. Simpul akar dimana tidak ada masukan edge dan 0 atau lebih keluaran edge (tepi),
2. Simpul internal, masing-masing 1 masukan edge dan 2 atau lebih edge keluaran,
3. Simpul daun atau simpul akhir, masing-masing 1 masukan edge dan tidak ada edge keluaran.
Pada decision tree setiap simpul daun menandai label kelas. Simpul yang bukan simpul akhir terdiri dari akar dan simpul internal yang terdiri dari kondisi tes atribut pada sebagian record yang mempunyai karakteristik yang berbeda. Simpul akar dan simpul internal ditandai dengan bentuk oval dan simpul daun ditandai dengan bentuk segi empat
Multi-Tier Influence Diagrams
Multi-Tier Influence Diagram adalah model yang paling sering digunakan. Dan tidak menggunakan model sama sekali. Lebih dari seperlima paper yang ditulis tidak menggunakan model sama sekali.
• Graphical representation of model
• Provides relationship framework
• Examines dependencies of variables
• Any level of detail
(sumber:pksm.mercubuana.ac.id/new/elearning/files.../16004-1-309343405708.doc)
Mengubah data menjadi pohon keputusan (decision tree) dan aturan-aturan keputusan (rule)
b. Contoh pemakaian Decision Tree
1. Diagnosa penyakit tertentu, seperti hipertensi, kanker, stroke dan lain-lain.
2. Pemilihan produk seperti rumah, kendaraan, komputer dan lain-lain
3. Pemilihan pegawai teladan sesuai dengan kriteria tertentu
4. Deteksi gangguan pada komputer atau jaringan komputer seperti Deteksi Entrusi,
deteksi virus (Trojan dan varians)
c. Tipe Simpul Pada Tree
Tree mempunyai 3 tipe simpul yaitu:
1. Simpul akar dimana tidak ada masukan edge dan 0 atau lebih keluaran edge (tepi),
2. Simpul internal, masing-masing 1 masukan edge dan 2 atau lebih edge keluaran,
3. Simpul daun atau simpul akhir, masing-masing 1 masukan edge dan tidak ada edge keluaran.
Pada decision tree setiap simpul daun menandai label kelas. Simpul yang bukan simpul akhir terdiri dari akar dan simpul internal yang terdiri dari kondisi tes atribut pada sebagian record yang mempunyai karakteristik yang berbeda. Simpul akar dan simpul internal ditandai dengan bentuk oval dan simpul daun ditandai dengan bentuk segi empat
Multi-Tier Influence Diagrams
Multi-Tier Influence Diagram adalah model yang paling sering digunakan. Dan tidak menggunakan model sama sekali. Lebih dari seperlima paper yang ditulis tidak menggunakan model sama sekali.
• Graphical representation of model
• Provides relationship framework
• Examines dependencies of variables
• Any level of detail
(sumber:pksm.mercubuana.ac.id/new/elearning/files.../16004-1-309343405708.doc)
Langganan:
Postingan (Atom)